mynotes along my trip

Ikon

BUAT AKU MENJADI LEBIH BAIK

dipukul orang saat ngamen

tak pernah terpikirkan dalam benak saya apa yang akan saya alami hari ini ,
ketika pagi semua berjalan dengan baik , meski tetap saja penuh dengan kegelisahan dan ketakutan akan masa depan yang masih jadi misteri
kulewati ngamen pagi hari seperti biasa alhamdulilah dapat hasil yang cukup buat hidup pagi itu meski siang harinya habis buat makan, ngenet , dan rokokan+ngopi , sorenya aku pergi ke kutisari, surabaya dari awal kejadian-kejadian sial seakan memberi kabar kepadaku bahwa akan ada tragedi menakutkan di hari kamu ini hati-hatilah, gitar sudah mulai pecah tabungnya mungkin karena seringnya jatuh , yang ke dua berkali2 aku kress dengan anak pengamen lain , yang otomastis berpengaruh pada hasil hari ini

maghrib tiba seperti biasa aku mampir di warkop pinggir jalan di tikungan kutisari surabaya , melepaskan penat, dan lelah biar terasa santai dlo , sebelah kiri jalan sudah aku lewati semua rumah2 dan kos2an , tinggallah tersisa yang sebelah kanan jalan , tempat biasa yang aku kunjungi sebuah kos2san dan rumah kontrakan sederhana dan sialnya aku lupa kalau rumah itu kebiasaaan PREI alias gak pernah kasih uang sama pengamen ,
jreng …… lagu indah mulai berdentung dari mulutku yang seksi dan penuh sial ibu2 keluar membawa dua piring dan menyambut dengan nada yang terdengar kurang enak di dengarkan telinga yang indah ini , prei masssss, lagi mangan kog aku jawab bu ngomong seng enak ae po”o gak usah nyentak2 , sambil aku berlalu , di jawab sama dia dengan nada keras lho ngomong ngono kog nyentak yaopo seh yang tidak sengaja atau di sengaja terdengar oleh anak laki2nya yang saat itu masih berseragam kerja pulang dari pabrik, dengan berteriak kepadaku hoooooooooeeeeeeeeeeeeee , tapi saat itu aku sudah berlalu dari depan pintunya menuju pintu kos sederhana yang berdinding bambu alias GEDEG(bahasa pacitan)

dengan cepat bocah edan tadi (dlam anggapanku) langsung menampek / memukul tanganku yang saat itu menerima bebrapa kepingan uang logam dari ibu yang hidup dalam kos sederhana bersama beberapa keluarganya dengan serentak aku kaget dan uangpun berjatuhan ke tanah tanpa pikir panjang akupun segera meninggalkannya dengan perasaan takut dan malu, si bocah bilang (dancok metuo teko kene , metu po gak tak pateni kon mengko (keluar kamu dari sini dan jangan kembali lagi , tak bunuh kamu kalau gak kembali ) dengan nada yang membuatku deg2gan dan takut , aku pun segera pergi dan minta maaf (iyo mas sepurane) (iya mas saya minta maaf

sesaat aku rasakan seperti trauma menjalani dunia “”pengamen”, seperti saya ingin berhenti selama lamanya tapi bagaimana lagi inilah pilihan satu-satunya ,

kerja ikut orang saya gak pecus untuk beradaptasi berulang kali di pecat , ngamenpun saya gak bisa menahan emosi aku seperti orang asing dalam kehidupan ini
aku bertanya , lalu di mana tempatku berteduh haruskah aku mati , apakah aku sudah siap menanggung semua dosa yang pernah aku kerjakan selama kehidupanku di dunia ??
saat pertanyaan itu aku lontarkan kepada diriku sendiri aku pun terdiam termangu , dan menggelengkan kepala , dan kuucapkan , jalani saja jika ini memang takdir tuhan

Filed under: mencari jati diri, sial, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.